User talk:Juxlos/Archives/2020/April

Active discussions

Eddy Sabara

@Juxlos: Hey Juxlos, regarding your interest in Soni Sumarsono, I present to you, id:Eddy Sabara. He has served as the acting governor in five provinces of Indonesia and as the acting governor of Southeast Sulawesi from 1966 until 1967 and the definitive governor from 1967 until 1978. His position as the acting governor was due to his position as the inspector general of the Ministry of Home Affairs.--Jeromi Mikhael (talk) 09:08, 12 March 2020 (UTC)

Sources (if you're interested):

And here's another source from the Kompas newspaper (I obtained it on my own, scanned and OCR it.)

Eddy Sabara, Spesialis Pejabat Gubernur Meninggal (KOMPAS edisi Minggu, 1 Okt 1995; page 7)

EDDY SABARA, SPESIALIS PEJABAT GUBERNUR MENINGGAL

SEJAK beberapa bulan lalu Mayjen (Purn) Haji Eddy Sabara terkabar sakit keras. Penyakit jantung yang dideritanya kumat dan kali ini komplikasi dengan ginjal. Memang cukup kritis.

Namun, masyarakat Sultra tetap saja kaget dan seolah tak percaya ketika mendengar kabar bahwa mantan Gubernur Sultra periode 1967-1978 itu telah berpulang ke Rahmatullah.

"Bukan saja rakyat Sultra tetapi saya kira bangsa Indonesia ikut kehilangan karena Eddy Sabara adalah tokoh nasional," ucap Prof Eddy Agusalim Mokodompit MA kepada Kompas di Bandara Wolter Monginsidi Kendari hari Sabtu (30/9).

Ketua DPD Golkar Sultra dan mantan Rektor Universityas Haluoleo ini bersama Gubernur Sultra dan Ny Hj Norma Kaimoeddin serta Ketua DPRD Sultra dan Ny Hj Sasmita Soedjatmiko, berangkat ke Jakarta menghadiri pemakaman Eddy Sabara.

Gubernur Kaimoeddin sendiri seperti sulit berkata-kata ketika dimintai komentarnya mengenai kabar duka itu. Ia hanya menatap kosong ke depan seraya mempercepat langkahnya ke tangga pesawat. Karo Humas Pemda Sultra Drs La Ode Ali Hanafi menjelaskan, gubernur sebetulnya ingin memakamkan Eddy Sabara di Kendari. "Tetapi dia tak bisa juga menampik keputusan pemerintah pusat", ujarnya.

Eddy Sabara adalah peletak dasar pembangunan Sultra. Ketika pembangunan melalui Repelita dimulai dan daerah lain hanya tinggal memoles kemajuan yang sudah dicapai, Sultra malah belum tahu di mana fondasi pembangunan akan diletakkan. "Pak Eddylah yang meletakkan fondasi itu," kata Gubernur Kaimoeddin di suatu kesempatan.

Fondasi yang diletakkan itu memang sangat fundamental. Tanpa dukungan dana dari APBN sejak tahun 1967 dia melaksanakan pemukiman kembali (resettlement) penduduk lokal, lalu mendatangkan transmigran dari Jawa dan Bali.

APBD Sultra ketika itu juga boleh dikata masih nol. Gubernur Eddy Sabara sendiri hanya bermodalkan sebuah jeep tua sebagai mobil komando. Kedua program kependudukan yang dilaksanakan sebelum Repelita, sampai sekarang masih dilaksanakan di Sultra.

Program tersebut bertujuan memaksimalkan pengelolaan sumber daya manusia yang sangat terbatas, sementara sumber daya alam melimpah ruah. Wilayah Sultar meliputi 38.140 km persegi, namun penduduknya pada masa permulaan menjadi propinsi hanya sekitar 590.000 orang. Sebagian besar penduduk hidup terpencar. Mereka adalah petani ladang berpindah.

Lokasi resettlement ditempatkan di sepanjang daerah yang direncanakan menjadi jalur-jalur jalan poros dan jalan penghubung. Pada awal masa jabatan Eddy Sabara, jalan poros Kendari-Kolaka (173 km) ditempuh paling cepat dua hari dua malam.

Setelah memasuki masa Repelita, pernah datang sebuah tim dari Bappenas yang bermaksud meneliti kemungkinan jalan poros Kendari- Kolaka dibangun dengan dana APBN. Dalam suatu pertemuan dengan Gubernur Eddy Sabara, tim itu mengemukakan beberapa syarat yang harus dipenuhi agar jalan tersebut dapat didanai APBN: antara lain harus sudah ada sekian mobil lewat per jam, di sepanjang jalan ada persawahan dan kegiatan ekonomi lainnya.

Kriteria tersebut ditolak Eddy Sabara. "Kalau persyaratan itu yang dicari, jelas tidak akan ditemukan. Mana ada mobil di situ. Satu minggu belum tentu lewat satu biji truk. Sawah dan lain-lain apalagi. Saudara-saudara lebih baik segera pulang ke Jakarta, sekarang juga selagi masih ada pesawat di airport", katanya.

Pandangan para pakar dari Bappenas tersebut dianggap Eddy Sabara terlalu konvensional. Dia ingin membuktikan bahwa teorinya lebih relevan. Yaitu bahwa membangun jalan raya lebih dahulu pasti menjadi daya tarik bagi penduduk untuk datang bermukim dan membuka lahan pertanian di sepanjang jalan tersebut.

LAHIR di kota Kendari tanggal 17 Februari 1928, Eddy Sabara melanjutkan pendidikan SLTP di Makassar. "Dia sekelas pahlawan nasional Wolter Robert Mongisidi. Mereka kelas dua, saya di kelas satu SMP Nasional Makassar", tutur Eddy Agusalim Mokodompit. SMP Nasional Makassar adalah tempat sekolah para pejuang kemerdekaan, tambahnya.

Eddy Sabara yang berdarah campuran Muna, Tolaki dan Bugis, kemudian pergi ke Jawa bersama para pejuang asal Sulawesi lainnya. Dia sebenarnya nyaris tewas dibantai PKI dalam kaitan dengan peristiwa Madiun tahun 1948. Lettu Eddy Sabara waktu itu menjabat Komandan Kompi Bantuan Batalyon Andi Matalatta yang ditempatkan di Madiun sambil menunggu pemberangkatan ke Sulawesi.

Dia bersama pasukannya dilucuti PKI pada sekitar pukul 02.00 dini hari. Singkat cerita, Eddy Sabara bersama keponakannya, Syakir Sabara, yang juga menjadi anggota TRI-PS (Tentara Republik Indonesia - Persiapan Sulawesi) meringkuk dalam sel PKI sebelum dieksekusi.

Untunglah pasukan Siliwangi dari satuan yang dipimpin Solihin GP segera dapat melumpuhkan kekuatan PKI di Markas Kodim Madiun itu lalu membebaskan para tawanan, termasuk kedua Sabara.

Ketika menjabat Irjen Depdagri Eddy Sabara dianugerahi bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Soeharto. "Saya sudah mengabdi secara paripurna. Saya ingin agar aparat di Sultra juga dapat mengabdi tanpa cacat, tidak justru menggarong kekayaan negara yang ada di sini. Secara pribadi saya akan tetap mengawasi agar di Sultra tidak terdapat kutuk-kutuk busuk yang merugikan rakyat", katanya pada malam resepsi HUT Sultra ke-29, Selasa 27 April 1993, di pelataran gubernuran Kendari. Itu yang terakhir kali ia tampil berpidato di depan masyarakat Sultra yang dicintainya.

Eddy Sabara memegang jabatan Gubernur Sultra selama 12 tahun (1966-1978). Setelah itu karirnya di bidang pemerintahan lebih menanjak. Mula-mula dia menjabat Irjen Depdagri. Kemudian dipercayakan lagi menjabat Dirjen PUOD (Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah).

Pada masa jabatan di dua eselon I Depdagri itulah Eddy Sabara sering bolak-balik menjadi pejabat gubernur, antara lain di Aceh, Jambi, Kalteng, Sulteng, dan Sultra sendiri. Selama kurun waktu awal 1980-an itu Eddy Sabara oleh pers dijuluki: "spesialis pejabat gubernur." (yas)

Foto: Kompas/rat Eddy Sabara

I'd get around to it once the coronavirus affair cools down. Juxlos (talk) 18:22, 12 March 2020 (UTC)
@Jeromi Mikhael: thanks for the OCR - article created and I nominated it for DYK. Juxlos (talk) 05:19, 5 April 2020 (UTC)

Translation of "Penerangan" in the "Kementerian Penerangan"

Juxlos, as a near-native speaker of English, I need your help.
What do you think about the translation of the word "Penerangan" to English? Would it be Enlightenment or Information? I think that the world "Informasi" and "Penerangan" should have a difference. I listed several advantages and disadvantages between Enlightenment and Information

Enlightenment Information
+ More accurate and literal translation of the word + Common word, used as an official translation of the word.
– Uncommon word, may cause confusion and double meaning (enlightenment → enlighted; nothing to do with information) – Causes confusion when referring to the successor of the ministry.
Example uses: Norway, Nazi Germany. Both ministries has a quite similar task compared to the "Kementerian Penerangan" during the Suharto's era. "Kementerian Penerangan" has the state radio and television under its control, while the current ministry, "Kementerian Komunikasi dan Informatika", only supervises and doesn't actually own any media. Example uses: Literally every Indonesian government book in English uses the term information.

--Jeromi Mikhael (talk) 04:35, 9 April 2020 (UTC)

Information seems to be more appropriate. Juxlos (talk) 04:47, 9 April 2020 (UTC)

Your GA nomination of Johannes Latuharhary

Hi there, I'm pleased to inform you that I've begun reviewing the article Johannes Latuharhary you nominated for GA-status according to the criteria.   This process may take up to 7 days. Feel free to contact me with any questions or comments you might have during this period. Message delivered by Legobot, on behalf of Vami IV -- Vami IV (talk) 17:01, 17 April 2020 (UTC)

Thanks

for your clean up JarrahTree 11:34, 19 April 2020 (UTC)

The 50 DYK Creation and Expansion Medal

  The 50 DYK Creation and Expansion Medal
Good work! --evrik (talk) 23:54, 19 April 2020 (UTC)

50,000 Destubbing Challenge Focus of the Week

Hello there. This is an invitation to join the 50,000 Destubbing Challenge Focus of the Week. £250 (c. $310) is being given away in May, June and July with £20 worth of prizes to give away every week for most articles destubbed. Each week there is a different region of focus, including one week dedicated to South-South East Asia, though half the prize will still be rewarded for articles on any subject. There's a potential £120 to be won in total for destubbing on any subject or region of your choice. Sign up if you want to contribute at least one of the weeks or support the idea! † Encyclopædius 11:37, 28 April 2020 (UTC)

Central sulawesi

should have no problems with the image Central Sulawesi because the size of the adjustment is the same as the old image

Return to the user page of "Juxlos/Archives/2020/April".